Tampilkan postingan dengan label MUSEUM JAMBI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUSEUM JAMBI. Tampilkan semua postingan
Selasa, 22 Oktober 2013
Sejarah Museum Perjuangan Rakyat Jambi
Sejarah Museum Perjuangan Rakyat Jambi
Museum Perjuangan
Rakyat Jambi merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Daerah dari Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi yang bertugas mengumpulkan, menyimpan,
merawat/melestarikan, meneliti dan menerbitkan hasilnya, menyajikan, dan
membimbing edukatif kultural benda sejarah perjuangan rakyat Jambi sebelum
kemerdekaan, kemerdekaan, dan masa mengisi kemerdekaan yang bersifat lokal dan
regional.
Museum Perjuangan
Rakyat Jambi terletak di sudut pertemuan Jalan Sultan Agung dan Jalan Slamet
Riyadi, tepatnya Jl. Sultan Agung no. 12, Jambi. Pendirian museum ini atas
prakarsa Dewan Harian Daerah Angkatan 45 (DHD-45) bersama Pemerintah Daerah
Provinsi Jambi dengan tujuan mengenang sejarah perjuangan rakyat Jambi semasa
pergerakan nasional hingga kemerdekaan Indonesia.
Peletakan batu pertama
pendirian museum ini dilakukan oleh Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia,
Letjen. Achmad Thahir pada 6 Juni 1993 dan diresmikan secara simbolis oleh
Presiden Soeharto pada 10 Juli 1997. Bangunan Museum Perjuangan Rakyat Jambi
seluas 1.365 m2 yang menempati lahan seluas 10.000 m2 mengambil bentuk
perpaduan gaya rumah tradisional Jambi dan arsitektur modern. (Budi Prihatna).
Diposkan oleh Jl. Sultan Agung No. 12 Jambi. Telp. 0741-7552802.
Lokasi: Museum Perjuangan Rakyat Jambi

Sabtu, 12 Oktober 2013
RI 005
RI 005
Pesawat Catalina RI 005 awalnya milik
seorang mantan penerbang RAAF (Royal Australian Air Force) bernama R.R.
Cobley yang disewa oleh Dewan Pertahanan Daerah Jambi untuk kepentingan
perjuangan. Atas prakarsa TNI Sub Territorium Djambi (STD) disewa pesawat
Catalina milik Cobley yang beregister Australia YHROP dan langsung digantinya
menjadi register Indonesia RI 005. Catalina RI 005 yang sarat dengan perjuangan
mempertahankan kemerdekaan Indonesia mengemban tugas menghubungi Komando Sub
Territorium Djambi dengan Komandemen Sumatera di Bukittinggi, pemindahan
perwira-perwira tinggi dan menengah dari Yogyakarta, dan mengirim barang-barang
dari Komandan Resimen Sub Territorium Djambi (STD) untuk kebutuhan militer
Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta. Selain membawa senjata, makanan,
pakaian, dan perlengkapan militer serta sipil, pesawat ini sebagai jembatan
penghubung antara Kota Jambi dan kota-kota lainnya, seperti Bukittinggi,
Prapat, Banda Aceh, Tanjung Karang, Yogyakarta, dan Singapura.

Saat Kota Jambi
diduduki Belanda pada 29 Desember 1948 pesawat Catalina ini belum dapat
difungsikan karena mengalami kerusakan mesin dan masih berada di Sungai
Batanghari. Upaya untuk memperbaiki pesawat dilakukan Cobley bersama mekanik
Jon Londa dan seorang penumpang bernama Prangko dengan mencari suku cadang
pesawat di Singapura. Dalam upaya memperbaiki pesawat ini, RI 005 mengalami
kecelakaan, jatuh menabrak tongkang yang ditenggelamkan melintangi sungai
sebagai upaya mencegah masuknya tentara Belanda ke pedalaman Jambi. Dalam
kecelakaan tersebut pilot R.R Cobley dan mekanik Opsir Muda Udara John Londa
tewas ikut tenggelam ke dasar Sungai Batanghari pada 28 Desember 1948.
Dalam upaya mengenang peran RI 005 dalam
mempertahankan kemerdekaan dilakukan pencarian reruntuhan pesawat Catalina
tersebut dari dasar Sungai Batanghari. Hasil temuan berupa sebagian patahan
pesawat, seperti sayap, sebagian mesin, dan lain-lain di kedalaman lumpur
Sungai Batanghari dijadikan monumen tonggak sejarah perjuangan rakyat Jambi.
(Budi Prihatna).
sumber : museumperjuanganrakyatjambi.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)
